USI - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani mengatakan, saat ini Gunung Agung belum menunjukkan adanya tremor. Namun, intensitas kegempaan pasca-penetapan awas Gunung Agung meningkat cukup pesat.
"Saat ini belum ada tremor, memang meningkat kegempaannya tapi belum ada tremor, tidak perlu panik," ungkap Kasbani di Pos Pantau Gunung Agung, Desa Rendang, Karangasem, Senin 25 September 2017.
Kasbani mengatakan, Gunung Agung sudah menunjukan tanda-tanda bakal meletus, seperti mengeluarkan asap solfatara serta gempa vulkanik dangkal meningkat.Kendati demikian, ia mengaku tak mengetahui secara pasti kapan gunung setinggi 3.142 mdpl itu bakal meletus.
Dari data yang disampaikan tim PVMBG, periode 06.00-18.00 WITA, Senin 25 September 2017 tercatat Gunung Agung telah memproduksi gempa vulkanik a (dalam) sebanyak 307 kali, sedangkan untuk gempa vulkanik b (dangkal) sebanyak 163 kali. Sementara, gempa teknonik tercatat sebanyak 55 kali.
Gempa terasa hingga pos pengamatan Gunung Agung di Desa Rendang dan wilayah lainnya sebanyak 10 kali dengan skala II-III MMI. Sepanjang periode 12.00-18.00 WITA, terpantau cuaca berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah ke barat suhu udara 21-30 derajat celcius dengan kelembaban udara sebesar 74-88 persen.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya menyebut Gunung Agung memasuki fase kritis. Gunung Agung sudah memasuki status awas sejak 22 September 2017.
Radius bahaya sudah ditetapkan. Masyarakat tak boleh berada di radius 9 kilometer dari puncak Gunung Agung. Sebanyak 48.540 jiwa sudah mengungsi ke 301 titik pengungsian yang berada di 9 kabupaten dan kota.
Namun, sekitar 62 ribu jiwa yang berada di radius 9 hingga 12 kilometer masih enggan meninggalkan rumah mereka. Alasan mereka, Gunung Agung belum meletus. Beberapa di antara masyarakat juga mengkhawatirkan ternak mereka.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar