Slider

BREAKING NEWS

Kamis, 22 Maret 2018

Pendiri WhatsApp Serukan Delete Facebook, Ada Apa?


BABE TB – Brian Acton yang merupakan pendiri dari aplikasi pesan singkat Whatsapp.co telah mengikuti kampanye dengan hash tag #deletefacebook di Twitter. Hal ini dilakukannya setelah Cambridge Analytica memperoleh informasi pribadi dari 50 juta pengguna Facebook tanpa izin selama kampanye presiden Amerika Serikat 2016. Sebelumnya, diketahui bahwa Brian Acton telah hengkang dari Facebook pada tahun lalu.
“Ini sudah waktunya. #deletefacebook.” Demikian ia mencuitankannya di akun Twitter @brianacton,Rabu (21/03/2018).
Cambridge Analytica sendiri merupakan perusahaan data yang didukung oleh pendukung Donald Trump, Robert Mercer, dan pernah dipimpin oleh mantan penasehat Donald Trump, Steve Bannon.
Dimulainya Gerakan #deletefacebook 
Rupanya, di tahun 2015 pihak Facebook telah mengetahui semua tentang data bocor ini. Akan tetapi, publik baru mengetahui kabar ini pada akhir pekan lalu. Saat pengguna Facebook mengetahuinya, tak ayal banyak dari mereka yang praktis jadi merasa tidak puas. Saat itulah gerakan #deletefacebook dimulai.
Acton sendiri bukanlah mantan eksekutif Facebook pertama yang mengekspresikan kegelisahan tentang perusahaan setelah meninggalkannya. Tahun lalu, mantan eksekutif perusahaan, Chamath Palihapitiya menyebabkan kehebohan dengan mengatakan: Kami telah menciptakan alat yang merobek struktur sosial dari bagaimana masyarakat bekerja,” demikian seperti diberitakan dalam The Verge.
Sementara itu, mantan eksekutif lainnya yang mengungkapkan penyesalan mereka mencakup Justin Rosenstein, Sean Parker dan investor Roger McNamee.
Mengutip reportase Liputan6.com, kicauan yang diunggah oleh Acton ini memang dianggap penting dan mendunia, mengingat posisi WhatsApp sendiri merupakan aplikasi berkirim pesan terbesar di dunia saat ini. Penjualannya ke Facebook pada 2014 lalu bernilai fantastis, yang mencapai hampir US$ 19 miliar, atau sekitar Rp 261 triliun.
Facebook telah mengalami kecaman luas usai munculnya pemberitaan skandal Cambridge Analytica oleh The New York Times, The Guardian, dan stasiun televisi Channel 4.
Terbongkarnya skandal ini mencuatkan nama Aleksandr Kogan selaku analis utama pada firma konsultan politik Cambridge Analytica, yang membocorkan informasi lebih dari 50 juta pengguna Facebook untuk kepentingan politis di beberapa negara.
Konon, Facebook telah mengetahui upaya pencurian tersebut pada 2015, namun belum juga membahasnya secara terbuka hingga mulai terkuaknya skandal terkait pada akhir pekan lalu.

Kongres AS Desak Bos Facebook Beri Kesaksian
Di sisi lain, Senator Amerika Serikat (AS) untuk Komite Kehakiman, Dianne Feinstein, yang berasal dari Partai Demokrat menuturkan bahwa pemimpin Facebook, Mark Zuckerberg, harus memberi kesaksian di hadapan Kongres mengenai layanan pengelolaan data para penggunanya.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Feinstein pada Selasa (20/03/2018), terkait menguaknya skandal Cambridge Analytical yang diduga diam-diam berperan dalam memenangi Donald Trump dalam Pilpres AS 2016 lalu.
Mengutip Channel News Asia pada Rabu (21/03/2018), Feinstein menyebut sebanyak 50 juta pengguna Facebook kehilangan data pribadi mereka di Facebook. 
Hal itu dikemukakan setelah munculnya desakan dari para anggota Konggres, yang meminta raksasa media sosial itu menjelaskan dugaan penambangan data pribadi penggunanya untuk kampanye Donald Trump pada Pilpres AS terakhir.
“Saya pikir kita harus menghadirkan pemimpin Facebook, bukan pengacara mereka, bukan perwakilan mereka, tetapi orang nomor satu di sana … datang, menyatakan jika mereka benar-benar siap untuk memimpin industri (teknologi informasi), sekaligus melakukan kontrol ketat agar semua ini tidak lagi terjadi,” beber Feinstein di hadapan media.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox