Slider

BREAKING NEWS

Jumat, 18 Mei 2018

Astaga! Nyaris Direkrut Jadi Teroris Hingga Aksi Cuci Otak di Kos, Pengakuan Wanita Ini Langsung Viral


USI – Pasca teror bom yang baru-baru ini mengguncang beberapa kota di Indonesia memang sukses menumbuhkan kekhawatiran. Selain memunculkan banyak kisah heroik, ada juga pengakuan-pengakuan mencengangkan dari mereka yang hampir saja direkrut menjadi teroris.
salah satunya kisah dan pengalaman seorang wanita yang langsung viral sejak dibagikan melalui akun media sosial Facebook pada Senin (14/5) pukul 23.58 WIB lalu. Pemilik akun Facebook Yunita Dwi Fitri ini menguak peristiwa kelam yang ia alami pada 12 tahun silam.

Karena saya peduli, jadi mau sharing cerita 12 tahun yang lalu… Waktu lagi galau2nya Tugas Akhir kuliah, diperjalanan menuju kosan dari kampus sendirian, sepanjang jalan Sekeloa mikirin Tugas Akhir yang bener2 bikin galau,” tulisnya, dikutip dari Tribunnews.com, Kamis (17/5/2018).

Ia kemudian mengisahkan bagaimana awalnya ia nyaris saja menjadi anggota kelompok berpaham radikal tersebut. Ketika itu seorang remaja putri yang disebutnya sebagai Anna menghampiri dan menanyakan kos, pasalnya Anna sedang membutuhkan tempat untuk kos.
Lantaran tempat kos Yunita kebetulan masih ada kamar kosong, ia pun mengajak perempuan itu ke kosnya. Namun sesuatu yang tidak wajar mulai terjadi. Bukan menemui pemilik kos, Anna justru minta minum dan masuk ke dalam kamar Yunita.
Melihat ada Al Qur’an terbuka di atas sajadah, Anna menanyakan apakah Yunita suka membaca kitab suci Al Qur’an. “Iya, lagi belajar, suka baca tafsirannya,” demikian jawaban Yunita yang langsung dibalas: “Saya besok ke sini lagi ya, kan, bawa temen, nanti kita belajar bareng-bareng tentang tafsir Al Qur’an”.
Rasa curiga Yunita yang tumbuh ditampiknya karena pada saat itu ia memang memiliki keinginan untuk mempelajari Al Qur’an dan buku-buku tentang Ketuhanan. Dan tawaran Anna pun langsung disetujui tanpa memikirkan kemungkinan hal buruk.
Esoknya, benar saja. Anna datang kembali bersama seorang wanita berusia 22-23 tahun, yang disebut bernama Tari dalam kisah Yunita. Tari dengan sangat fasih mengintruksikan Yunita membuka ayat-ayat Al Qur’an.
Yunita akhirnya menarik kesimpulan bahwa Tari berpendapat: “Halalnya membunuh orang-orang kafir, jihad dijalan Allah tidak mudah, pasti akan dimusuhi bahkan oleh keluarga sendiri, tapi hal itu dibenarkan dalam Al-Quran, maka dari itu diawali dengan sembunyi2 agar misi terlaksana dengan baik.”
Usai pertemuan pertama, Tari mengundang Yunita ke kosnya yang rupanya tak terlalu jauh. Disebutkan, nanti di kos Tari, mereka akan kembali melanjutkan mempelajari ayat-ayat dalam kitab suci Al Qur’an bersama dengan Anna.
Saat itulah ketakutan Yunita memuncak. Namun lagi-lagi karena rasa penasaran yang lebih besar, ia tetap menuruti ajakan Tari. Dan keesokan hari, dijemput Anna mereka berdua mendatangi kos Tari. Pada saat inilah terjadi sesuatu yang sama sekali tak pernah dibayangkan Yunita sebelumnya.
Tari mengeluarkan papan tulis putih ukuran sedang. Diawali dengan membaca do’a, Tari mengemukakan ideologi tanpa mengeluarkan Al Qur’an seperti sehari sebelumnya. Yunita semakin merasakan ketakutan yang teramat sangat.
Yunita menulis: “Tari menggambarkan sebuah mobil ketika driver salah mengendarai, masuk kejurang, matilah semua penumpang didalam mobil, begitulah jika di sebuah negara pemimpinnya salah, intinya adalah negara ini salah dan kita semua berdosa jika dipimpin dengan pemimpin yang salah.”
“Kemudian menggambarkan sebuah apel busuk ketika ada didalam kulkas bersama apel-apel yang baik, maka apel yang baik akan tertular busuk, itulah kita jika masih berteman dengan orang kafir dan tidak sepemahaman dengan kita.
Dari gambaran2 itu, kira-kira paham kan ya maksudnya. Banyak lah ideologi2 yang dia sampaikan. Dan dia menyebut kita harus membangun Negara Islam Indonesia untuk negara yang diridhoi Allah,” tulis Yunita panjang lebar.
Semakin curiga hati ini ketika dia bilang: “Untuk membangun misi ini diperlukan dana, karena kita membangun sebuah negara baru untuk Allah, dan diperlukan pengorbanan dan ketetapan hati, jadi kamu akan dibai’at di Cimahi (saya kurang inget tepatnya dimana) dengan membawa uang 400rb.”
Jangan bertanya bukankah amal itu seikhlasnya? Tidak.. karena dengan pengorbananmu maka Allah akan tau sampai mana pengorbananmu untuk-Nya. Bahkan ketika kamu berbohong meminta uang ke orang tua atau menjual handphonemu adalah sebuah pengorbanan untuk Allah. Adapun baju yang harus dikenakan adalah kemeja, hijab, celana bahan.”
Mendapatkan penjelasan Tari, Yunita mengaku merasa otaknya sedang dicuci dan hanya menuruti setiap perkataan yang keluar dari mereka. Bahkan ia mengungkapkan saat itu tidak memiliki keberanian untuk bercerita kepada teman-temannya.
Beruntung ia tak dibutakan. Yunita berupaya mencari pendapat lain dan ia dipertemukan dua mahasiswa lain yang diungkapkan sebagai penyelamat hingga membuatnya tak jadi direkrut sebagai teroris.
12 tahun sudah berlalu, sekarang Indonesia sedang darurat teroris, dan saya percaya ini bukan Cuma sekedar isu.. Sekarang Tari-Tari lain banyak kita temui di sosmed.. jangan biarkan mereka semakin berkembang. Demi NKRI. Demi Agamaku,” pungkas Yunita mengakhiri kisahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox